Oleh : Muhamad isbah Habibii
Hari ini, apabila seseorang berziarah ke kompleks pemakaman muassis Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Dusun Gedangan, ia akan menemukan keterangan tentang sosok yang dimakamkan di sana sebagai salah satu pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Sosok tersebut adalah KH. Wahab Hasbullah, putra Tambakberas, yang kemudian dikenal luas sebagai salah satu tokoh pergerakan di tingkat nasional.
Namun sayangnya, hingga kini masih banyak yang mengenal kiai yang pernah nyantri di Tebuireng dan Demangan ini hanya sebagai arsitek organisasi Islam di Indonesia. Bahkan, lebih ironis lagi, ada yang membatasinya sekadar sebagai tokoh politik awal kemerdekaan. Hampir tidak ada yang melihat sisi lain beliau sebagai “arsitek” dalam dunia pendidikan. Padahal, ia bukan hanya tokoh agama, bukan sekadar tokoh politik, dan bukan pula semata pengurus organisasi, melainkan sosok yang pantas disejajarkan dengan Ki Hadjar Dewantara dalam bidang pendidikan.
Persentuhan beliau dengan dunia pendidikan tidak cukup dijelaskan hanya sebagai peran seorang putra kiai yang melanjutkan pengelolaan pesantren, ataupun sekadar pendiri sekolah formal di lingkungan pesantren salaf. Ada langkah yang lebih jauh dan lebih visioner. Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara dikenal melalui Taman Siswa sebagai karya besarnya dalam dunia pendidikan, KH. Wahab Hasbullah juga meninggalkan jejak melalui sekolah-sekolah Nahdlatul Wathan sebagai manifestasi gagasannya di bidang pendidikan.
Bersama KH. Mas Mansur—yang kini kerap hanya dikenal sebagai salah satu pengurus awal Muhammadiyah—Kiai Wahab, bersama beberapa kiai lainnya, membidani lahirnya sekolah-sekolah Nahdlatul Wathan yang kemudian berkembang pesat di berbagai daerah.
Di Surabaya, misalnya, terdapat 18 sekolah yang pada tahun 1939 memiliki total 924 murid, di antaranya Hidayatul Wathan dan Far’ul Wathan. Perkembangan serupa juga tampak di Malang, yang pada tahun 1929 mencatat 250 murid dan berhasil memperluas jaringan ke enam kecamatan: Pujon (190 murid), Pakis (150), Batu (170), Karanglo (110), Bululawang (160), dan Singosari (200). Secara lebih luas, madrasah Nahdlatul Wathan turut berkembang di berbagai cabang Nahdlatul Ulama, dengan pusat di Jawa Barat berada di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten, di Jawa Tengah di Jomblangan Kidul, Semarang, dan di Jawa Timur di Surabaya, yang cabang-cabangnya tersebar di Jombang, Gresik, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, serta kota-kota lainnya.[1]
Hal ini menunjukkan bahwa kiprah KH. Wahab Hasbullah dalam dunia pendidikan bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia tidak berhenti pada pengajian rutin atau kegiatan keagamaan yang sekadar menarik massa, melainkan melangkah lebih jauh dengan memikirkan, merancang, dan merumuskan model sekolah beserta kurikulumnya. Ia menghadirkan tindakan nyata—bukan sekadar wacana atau diskusi tentang mirisnya kondisi pendidikan.
Untuk melihat keseriusan kurikulum sekolah ini, kita dapat merujuk pada beberapa buku sejarah yang berkaitan dengan KH. Wahab Hasbullah, salah satunya karya Safrizal Rambe. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa sekolah ini memiliki enam jenjang, mulai dari sifir awal hingga kelas empat. Materi yang diajarkan pun mencakup berbagai bidang, mulai dari baca, tulis, dan hitung hingga morfologi, gramatika, fikih, dan akidah.
Terdapat redaksi yang cukup menarik dalam riwayat yang disampaikan oleh Safrizal Rambe. Saat menjelaskan jenjang sifir tsani, ia menuliskan, “sama dengan kelas sifir awwal, hanya diperdalam.” Demikian pula ketika menjelaskan jenjang kelas tiga, ia menyebutkan, “sama dengan jenjang kelas dua, hanya saja pembahasannya lebih diperdalam”[2]. Sekilas, diksi ini mungkin tampak sederhana dan tidak terlalu berarti. Namun, bagi mereka yang memiliki perhatian terhadap literatur pendidikan, ungkapan tersebut justru menyimpan gagasan yang menarik dan penting.
Frasa tersebut tidak menunjukkan pengulangan materi yang sama pada jenjang berikutnya, dan juga tidak berarti pergantian materi secara total atau pengenalan hal yang sepenuhnya baru. Sebaliknya, frasa itu menegaskan bahwa materi disusun secara berjenjang: saling terhubung, kemudian diperluas, diperdalam, diperinci, dan disajikan secara berlapis. Hal ini memiliki banyak manfaat, salah satunya pemahaman lebih dalam, memori lebih kuat dan tahan lama, belajar jadi terasa lebih mudah di tahap berikutnya, dan dapat mengurangi kebingungan karena terlalu sering menghadapi materi baru terus-menerus.
Hal ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Bruner dalam bukunya The Process of Education. Ia menekankan bahwa pembelajaran seharusnya dimulai dari pengenalan konsep umum pada tahap awal, yang kemudian dihadirkan kembali dalam berbagai konteks dan disiplin, sehingga pemahaman siswa berkembang menjadi semakin mendalam, luas, dan terintegrasi[3]. Dengan demikian, pembelajaran yang ideal bukanlah proses satu kali selesai, melainkan berlangsung secara bertahap, dari pengenalan menuju pendalaman. Gagasan ini kemudian ia rumuskan dalam konsep kurikulum yang dikenal sebagai spiral curriculum[4].
Gagasan ini mungkin tampak sederhana, tetapi jika diterapkan, berpotensi memberikan dampak yang signifikan. Salah satunya, peserta didik dapat memahami cakupan materi yang akan dipelajari, mengenali garis besar pelajaran, serta memiliki gambaran tentang kegunaan dan relevansinya. Melalui pengulangan yang berjenjang dan semakin mendalam, pemahaman mereka tidak hanya bertambah luas, tetapi juga semakin terstruktur dan terintegrasi.
Artinya, jika kita membaca dengan saksama, apa yang diterapkan di sekolah-sekolah Nahdlatul Wathan bukanlah sesuatu yang ditentukan secara sembarangan. Setiap unsur kurikulumnya tampak dipikirkan, diukur, dan ditetapkan melalui pertimbangan yang matang. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa para tokoh di baliknya, termasuk KH. Wahab Hasbullah, merupakan sosok yang memahami kebutuhan peserta didik, mampu menakar porsi pembelajaran yang ideal, serta mempertimbangkan kemampuan mereka dalam menerima materi ajar.
Pun demikian, pola ini juga tampak mendekati metode pengajaran Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi kepada muridnya, Sibawayh, sejak usia muda. Ketika Al-Khalil melihat potensi Sibawaih sebagai penerus ilmunya, ia memperlakukannya dengan penuh kelembutan hingga seakan-akan seperti anaknya sendiri. Ia mengajarkan ilmunya secara bertahap—sedikit demi sedikit—bukan sekaligus, melainkan melalui proses yang berkesinambungan. Proses ini pada akhirnya membuahkan hasil: Sibawaih tumbuh menjadi sosok yang matang dalam keilmuan serta memiliki kemandirian intelektual. Gambaran tersebut dapat ditemukan dalam syair karya Abu Hayyan al-Andalusi dalam kitab Ihāṭah fī Akhbār Gharnāṭah[5]
وَلَمَّا رَأَى مِنْ سِيبَوَيْهِ نَجَاتَهُ # وَأَيْقَنَ أَنَّ الْخَيْرَ أَدْنَاهُ بَاعَدَهُ
Tatkala ia melihat pada diri Sibawaih tanda keselamatan (kecerdasan dan ketepatan), dan ia yakin bahwa kebaikan yang didekatkan kepadanya akan menjauhkan (keburukan) darinya.
تَخَيَّرَهُ إِذْ كَانَ وَارِثَ عِلْمِهِ # وَلَاطَفَهُ حَتَّى كَأَنَّهُ وَالِدُهُ
maka ia pun memilihnya karena ia adalah pewaris ilmunya, dan ia memperlakukannya dengan lembut hingga seakan-akan ia adalah ayahnya.
وَعَلَّمَهُ شَيْئًا فَشَيْئًا عُلُومَهُ # إِلَى أَنْ بَدَتْ سِيمَاهُ وَاشْتَدَّ سَاعِدُهُ
Ia mengajarinya ilmunya sedikit demi sedikit, hingga tampaklah tanda-tanda (keunggulan) pada dirinya dan menjadi kuatlah kemampuannya.
Dari syair berbahar thowil ini, dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan yang ideal merupakan proses yang dimulai dari pengenalan potensi, dilanjutkan dengan pembinaan yang penuh kasih, dilakukan secara bertahap, dan diarahkan hingga menghasilkan kematangan kemampuan pada diri peserta didik. Proses tersebut tidak berlangsung secara spontan atau serampangan, melainkan melalui pilihan yang sadar, pendekatan yang lembut, serta pemberian materi secara terukur sesuai kesiapan murid. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada penyampaian ilmu, tetapi juga pada pembentukan kapasitas dan kekuatan diri peserta didik secara utuh.
Dengan demikian, apa yang diwariskan KH. Wahab Hasbullah melalui Nahdlatul Wathan bukan sekadar lembaga atau jaringan sekolah, melainkan sebuah cara pandang tentang pendidikan yang terencana, berjenjang, dan berorientasi pada pertumbuhan utuh peserta didik. Ia memperlihatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan ruang belajar, tetapi menuntut ketelitian dalam merancang kurikulum, kepekaan dalam memahami murid, serta kesabaran dalam menuntun prosesnya tahap demi tahap. Karena itu, sudah selayaknya kita tidak lagi melihat beliau hanya sebagai tokoh organisasi atau politik, melainkan juga sebagai pemikir dan arsitek pendidikan yang gagasannya tetap relevan untuk dibaca, dipahami, dan dihidupkan kembali dalam konteks pendidikan hari ini.
[1] Lihat: https://nu.or.id/fragmen/mengungkap-kurikulum-madrasah-nahdlatul-wathan-kiai-wahab-K7FTh
[2] Safrizal Rambe, peletak dasar tradisi berpolitik NU Sang penggerak Nahdlatul Ulama KH. Abdul Wahab Chasbullah sebuah biografi, Madani institute, 2020, hal. 142.
[3] Jerome Bruner, the process of education, London, the president and fellow of Harvard college, 1999, hal. 26
[4] Jerome Bruner, ……. Hal. 33
[5] Muhammad bin Abdillah/Lisanuddin bin al Khotib, Ihāṭah fī Akhbār Gharnāṭah, Bairut, Darul Kutub al-Ilmiyah, jus: 3, 2003, hal: 36












