Oleh: Abdulloh Syakur (Editor: Jalasukma Institute ’16)
Mars Madrasah Mu’allimin Mu’allimat (MMA) Bahrul Ulum adalah sintesis apik antara sastra Arab klasik dan semangat zaman. Secara struktur, Mars ini terdiri dari tiga bait nadzam yang disusun dengan presisi ilmu ‘Arūḍ. Meskipun tradisi puisi Arab telah ada sejak masa pra-Islam, ia baru terinstitusionalisasi secara sistematis melalui rumusan Al-Khalīl b. Aḥmad (Akbar & Hakim, 2024). Keunikan Mars ini terletak pada kolaborasi harmonis antara bait nadzam, teks bahasa Indonesia, dan irama musik mars yang energik.
Anthem: Jembatan Tradisi dan Modernitas
Sebagai sebuah anthem, lagu ini berfungsi mengukuhkan jati diri dan nilai kolektif lembaga (Auger, 2010). Di sini, terjadi “moderasi” menarik antara tradisi baḥr klasik dan modernitas musik. Keunikan transisi metrumnya terlihat pada: 1) Bait 1 & 2 menggunakan Baḥr Kāmil (mutafā‘ilun), dan 2) Bagian Reff beralih ke Baḥr Rajaz (mustaf‘ilun). Kedua metrum ini dipilih karena karakternya yang paling efektif dalam meluapkan emosi jiwa serta ketulusan ekspresi spiritual (Amri, 2022).
Fokus Analisis
Artikel bagian pertama (Part I) ini akan membedah dua bait pertama melalui teknik pemindaian puisi atau al-Taqṭī‘ al-‘Arūḍi (Shaharuddin, 2022). Tujuannya adalah menyingkap bagaimana kaidah ‘Arudl klasik berpadu dengan karakter musikal modern, di mana teks Indonesia hadir sebagai penguat makna dari nadzam Arabnya.
Baḥr Kāmil: Keagungan dalam Dinamika
Secara filosofis, sesuai namanya, Baḥr al-Kāmil (Sempurna) memberikan kesan lengkap, kokoh, dan berwibawa. Metrum ini merupakan bagian dari lingkaran kedua (al-mu’talif) yang menyatukan pola pentasyllabic atau lima suku kata (mutafā‘ilun) (Paoli, 2021). Pemilihan Baḥr Kāmil pada pembukaan Mars MMA sangat tepat untuk merepresentasikan wibawa madrasah, karena memiliki “warna musik khas yang mampu menciptakan kesan megah dan agung” (Al-Azazmeh & Abdulrazak, 2024).
Bedah Struktur: Antara Keluwesan dan Ketegasan
Berdasarkan analisis taqṭī‘ (pemenggalan bunyi), ditemukan dua karakteristik utama:
1) Dominasi Pola “Salim” (Luwes): Hampir seluruh bagian syair pada bait pertama dan kedua menggunakan pola dasar mutafā‘ilun (///o//o). Secara auditif, pola ini memberikan kesan mengalir dan luwes yang berfungsi sebagai sarana komunikasi efektif untuk menyampaikan pesan moral (Mushodiq dkk., 2025). Karakteristik adaptif ini tercermin dalam lirik pendamping: “Wahai Muallimin, Muallimat, kau bimbing kami, menimba ilmu ulama, demi jaga pertiwi”. Struktur ini berlanjut pada bait kedua yang membawa tema janji setia dan harapan tinggi (Yulistia, 2015). Perpaduan ketukan ‘Arudl’ yang berwibawa dengan teks Indonesia puitis menegaskan komitmen santri untuk meraih kemuliaan hidup melalui bimbingan ilmu (Rasyid, 2025).
2) Sentuhan “Iḍmār” di Akhir Bait (Tegas)
Uniknya, pada setiap akhir baris (ḍarb), terjadi perubahan bunyi yang disebut Zihāf Iḍmār. Secara etimologis, zihaf berarti terburu-buru atau bergegas (al-Isrā‘) (Arisandi, 2018). Secara terminologi, ia merupakan perubahan reduktif yang mengubah satuan lima suku kata (pentasyllabic) menjadi empat suku kata (Moghbel, 2019). Pola yang semula luwes (///o//o) berubah menjadi lebih padat dan tegas (/o//o//o atau setara dengan mustaf‘ilun) melalui proses penyukunan huruf kedua (Alsaid dkk., 2025).
Ketegasan ritme di akhir bait ini sangat sinkron dengan lirik pendamping bait kedua: “Janji setia, wahai cahaya penuntun jiwa, hidup mulia, menggapai cita setinggi angkasa”. Perubahan dari pola yang mengalir menjadi pola yang mantap seolah-olah menjadi “ketukan palu” yang mengunci janji setia dan cita-cita luhur para santri agar tertanam kuat dalam jiwa.
Hasil Analisis Taqṭī‘ Bait I & II
Melalui pemindaian ritme secara mendalam, ditemukan struktur pembentuk Mars MMA yang secara konsisten memadukan pola luwes dan pola tegas sebagai berikut:
| Posisi | Wazan | Jenis | Karakteristik Bunyi |
| Ṣadr & Ḥasyw (Awal & Tengah) | Mutafā‘ilun (///o//o) | Sālim | Luwes, mengalir, dan adaptif |
| Ḍarb (Akhir Bait) | Mutfā‘ilun (/o//o//o) | Iḍmār | Padat, tegas, dan aksentuatif (seperti ketukan palu) |
Bait I:
أَمُعَلِّمِيْنَ، مُعَلِّمَاتِ، رَعَيْتَنَا * نَتَعَلَّمُ الْعُلَمَاءَ كَي نَحْمِي الْحِمَى
Analisis: Ditemukan Iḍmār pada kata: naḥ-mil-ḥi-mā. Perubahan ini memberikan penekanan pada frasa “demi jaga pertiwi”, menciptakan efek psikologis berupa kesiapsiagaan (al-isrā‘).
Bait II:
وَبِعَهْدِنَا لِمَنَارِنَا وَأَنَرْتَنَا * وَتَنَالُ مَدْرَسَةُ النَّجَا أَعْلَى الْمُنَى
Analisis: Terdeteksi Iḍmār pada kata: ’a‘-lal-mu-nā. Pola penegasan di akhir ini menegaskan pesan tentang pencapaian cita-cita tertinggi, memberikan kesan optimisme yang kuat dan tanpa keraguan.
Makna Filosofis-Musikal
Penggunaan iḍmār menghasilkan ketukan yang lebih mantap. Secara filosofis, hal ini menggambarkan keseimbangan antara fleksibilitas intelektual santri yang dinamis dengan keteguhan prinsip ideologis yang tegas. Sebagai pengingat bagian pertama (Part I) ini, kita dapat merujuk pada sebuah bait monumental dalam kitab Arūḍ karya Syaikh Abdul Jalil bin Abdul Rahman yang merangkum keindahan metrum ini:
كَمُلَتْ صِفَاتُكَ يَا رَشَا وَأُولُو الْهَوَى * قَدْ بَايَعُوكَ وَحَظُّهُمْ بِكَ قَدْ نَمَا
(Sifat-sifatmu telah sempurna, wahai sang kekasih pujaan… dan para pecinta telah berbaiat kepadamu, sementara keberuntungan mereka pun kian tumbuh bersamamu).
Bait di atas secara harfiah diawali dengan kata Kamulat (Sempurna), mengukuhkan secara auditif bahwa Baḥr Kāmil adalah ruang terbaik untuk mengekspresikan kesempurnaan identitas. Diksi “Baiat” (Janji Setia) dalam syair klasik tersebut beresonansi harmonis dengan lirik Mars MMA: “Janji setia, wahai cahaya penuntun jiwa”.
Sintesis Analisis Fase Pertama
Melalui analisis ini, terlihat jelas bahwa Mars MMA bukan sekadar lagu penyemangat, melainkan sebuah “Moderasi Syair” yang menjaga kewibawaan spiritual tradisi pesantren di tengah arus modernitas. Dengan pola iḍmār yang mengubah satuan lima suku kata menjadi empat suku kata yang tegas, mars ini mampu menyuarakan janji setia santri kepada ilmu dan ulama dengan ritme yang sigap, luwes, namun tetap agung. Penelitian ini membuktikan bahwa Mars MMA adalah bentuk aktualisasi sastra Arab yang tidak hanya estetis secara bahasa, tetapi juga kuat secara metodologis ilmiah.
Jika Baḥr Kāmil memberikan ketegasan dan wibawa di awal, bagaimana Baḥr Rajaz mengubah suasana dan memacu semangat pada bagian Reff?
Simak kelanjutannya di Part II.
Daftar Pustaka
Abdul Jalil bin Abdul Rahman. (2024). Kitab al-Arūḍ wa al-Qawāfī (Tim Tahqiq MMA, Ed.). Pustaka Muallimin Muallimat Bahrul Ulum.
Akbar, J., & Hakim, A. (2024). Poetic interpretation of the Qur’an: A critical study of Tafsir Al-Mubarok by Taufiqul Hakim. Jurnal Undas: Jurnal Ilmiah Terpadu, 2(2), 205–233. https://doi.org/10.15642/juit.2024.2.2.205-233
Al-Azazmeh, M. H., & Abdulrazak, O. M. (2024). Manifestations of rhythm and meaning in Arabic poetry: The Mu’allaqat as a model [تجلِّيات الإيقاع والدِّلالة في الشِّعر العربيّ: المعلَّقات أنموذجاً]. Journal of Linguistic and Literary Studies, 15(1), 160–186. https://journals.iium.edu.my/arabiclang/index.php/jlls/article/view/1103
Alsaid, O., Moghbel, A. G., & Tabatabaei, S. M. (2025). A study of the poetic license “Taskin” in Persian and Arabic prosody: A focus on Molamma’at Mujir Al-Din Bilaqani, Mowlana, and Khajou Kermani. Literary Arts, 17(1), 116. https://doi.org/10.22108/liar.2025.143144.2411
Amri, N. (2022). Assemblies for “Prayer on the Prophet” in the Maghrib: Wasīlat al-mutawassilīn, by Barakāt al-ʿArūsī (d. ca. 897/1492), and Its Legacy. In the presence of the Prophet in early modern and contemporary Islam (hlm. 31–68). Brill. https://doi.org/10.1163/9789004522626_003
Arisandi, Y. (2018). Taġyīrāt al-awzān al-‘arūḍiyyah fī al-qaṣīdah al-Muḥammadiyyah li al-Būṣīrī [Perubahan wazan arudh dalam Qasidah Muhammadiyah karya Al-Bushiri]. Lughowiyyat: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab, 1(2), 141. https://doi.org/10.38073/lughawiyyat.v1i2.141
Auger, P. (2010). The Anthem Dictionary of Literary Terms and Theory. Anthem Press.
Mushodiq, M. A., Wijaya, A., Aziz Q I., Verawati, E., & Rohmah, N. (2025). Vertical communication dalam gubahan syair Arab tokoh Nahdlatul Ulama sebagai etika kritik pemimpin di Indonesia. Al-Fathin: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 8(1), 68. https://doi.org/10.32332/hch7kn15
Paoli, B. (2021). Prosody, Arabic. In Encyclopaedia of Islam, THREE. Brill. https://doi.org/10.1163/1573-3912_ei3_COM_46265
Rasyid, R. (2025). Studi ilmu ‘Arūḍ: Analisis proses Baḥr Kāmil pada syi’ir Busyrā Lanā karya Abuya Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani [Skripsi sarjana, Universitas Sumatera Utara]. Repositori Institusi Universitas Sumatera Utara. https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/113361
Shaharuddin, S. A. (2022). Islamic civilization in the age of globalization: An introduction. Al-Irsyad: Journal of Islamic and Contemporary Issues, 7(2), 1–6. https://doi.org/10.53840/alirsyad.v7i2.513
Yulistia, R. (2015). Al buhūr wa al mawādih al shi’riyyah fi diwān Ibn al Mu’taz li Abdillāh Ibn al Mu’taz (Dirāsah ‘Arūdiyyah) [Skripsi sarjana, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta]. Digital Library UIN Sunan Kalijaga. http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/18545













